Jumat, 27 Januari 2012

Kementerian Luar Negeri

Kementerian Luar Negeri harus betul-betul menyiapkan sumber daya manusia dengan baik, di antaranya memberikan pendidikan jurnalistik bagi para diplomat yang bekerja di bidang informasi. Dengan demikian, mereka cepat tanggap terhadap berita menyangkut Indonesia dan ASEAN, pandai membuat rilis berita, dan menjadi seorang generalis. Hal itu penting karena Kementerian Luar Negeri merupakan simpul atau pusat informasi Indonesia di luar negeri," kata pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti.

Dia nyatakan hal itu dalam simposium diplomasi luar negeri Indonesia, di Yogyakarta, Jumat. Peran media massa pada ranah jurnalistik juga memainkan peran sangat penting. Pemantauan dan pembuatan kliping berita-berita media massa menjadi "lagu wajib" bagi banyak petugas kedutaan besar, konsulat jenderal, atau perwakilan banyak negara di dunia.

Banyak diplomat handal Indonesia memiliki pemahaman sangat baik tentang jurnalistik. Di antara mereka adalah mantan Wakil Presiden Adam Malik, pendiri Kantor Berita media, mantan Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, dan beberapa yang diplomat lain Indonesia pada masanya.

Bahwa dunia diplomasi penuh basa-basi dan tata krama protokoler resmi, sepertinya luas diketahui. Gaya diplomasi para diplomat Indonesia juga perlu diubah. Semata-mata perubahan itu diperlukan untuk lebih mengefektifkan peran diplomasi bangsa ini di luar negeri atau terhadap pihak-pihak lain yang terkait.

"Diplomat Indonesia jangan hanya mengandalkan diplomasi government to government (G to G), tetapi juga perlu melakukan diplomasi government to people (G to P)," katanya, pada lokakarya "Isu-isu Internasional bagi Media Massa", di Yogyakarta, Jumat.

Selain itu, menurut dia, juga tidak hanya mengandalkan diplomasi politik, tetapi juga perlu menggunakan pendekatan multidimensional. Pendekatan multidimensional penting untuk memperkuat diplomasi.

Ia mengatakan, diplomat Indonesia juga harus lebih proaktif, membangun jaringan, cepat tanggap, berani, mendekati tokoh atau figur publik, dan mendatangi sumber informasi di luar negeri. Saya kira hal itu tidak terlalu sulit bagi diplomat Indonesia yang memiliki kualitas di atas rata-rata pegawai negeri sipil," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar